PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Aktual, Inspiratif, Normatif, dan Aspiratif (AINA)

29 October 2021

FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK INTEGRASI NASIONAL DALAM BINGKAI BHINNEKA TUNGGAL IKA

| 29 October 2021
Faktor-Faktor Pembentuk Integrasi Nasional Dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika


Faktor-Faktor Pembentuk Integrasi Nasional Dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Masalah integrasi nasional merupakan persoalan yang dialami hampir semua negara, terutama negara - negara yang usianya masih relatif muda, termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena mendirikan negara berarti menyatukan orang-orang dengan segala perbedaan yang ada menjadi satu entitas kebangsaan yang baru menyertai berdirinya negara tersebut. Begitu juga negara Indonesia yang usianya masih relatif muda. Sejak proklamasi kemerdekaan sampai sekarang negara Indonesia masih menghadapi persoalan bagaimana menyatukan penduduk Indonesia yang di dalamnya terdiri dari berbagai macam suku, memeluk agama yang berbeda-beda, berbahasa dengan bahasa daerah yang beranekaragam, serta memiliki kebudayaan daerah yang berbeda satu sama lain, untuk menjadi satu entitas baru yang dinamakan bangsa Indonesia.

 

Pengalaman menunjukkan bahwa dalam perjalanan membangun kehidupan bernegara ini, kita masih sering dihadapkan pada kenyataan adanya konflik atar kelompok dalam masyarakat, baik konflik yang berlatarbelakang kesukuan, konflik antar pemeluk agama, konflik karena kesalahpahaman budaya, dan semacamnya. Hal itu menunjukkan bahwa persoalan integrasi nasional Indonesia sejauh ini masih belum tuntas perlu terus dilakukan pembinaan. Walaupun harus juga disadari bahwa integrasi nasional dalam arti sepenuhnya tidak mungkin diwujudkan, dan konflik di antara sesama warga bangsa tidak dapat dihilangkan sama sekali. Tulisan ini akan memaparkan kondisi masyarakat Indonesia yang diwarnai oleh berbagai macam perbedaan dan upaya mewujudkan integrasi nasional dengan tetap menghargai terdapatnya perbedaan-perbedaan tersebut.


Secara etiomologis, integrasi berasal dari kata Integrate, yang artinya ‘memberi tempat bagi suatu unsur demi suatu keseluruhan, menyatupadukan, menggabungkan, atau mempersatukan.’ Kata bendanya integritas berarti ‘utuh’. Jadi integrasi adalah membuat unsur-unsur menjadi satu kesatuan dan utuh. Adapun integrasi nasional adalah menggabungkan seluruh bagian menjadi sebuah keseluruhan dan tiap-tiap bagian diberi tempat sehingga membetuk kesatuan yang harmonis dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI yang bersemboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Menurut Mahfud MD, integrasi nasional adalah pernyataan bagian-bagian yang berbeda dari suatu masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh, secara sederhana memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa. Oleh karena itu, membangun integrasi nasional sangat penting pada kehidupan bernegara dan juga mewujudkan cita-cita dan tujuan Negara bahkan memelihara rasa kebersamaan.

 

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk membangun integrasi nasional yang kokoh di Indonesia, yaitu sebagai berikut :

a. Adanya kemampuan dan kesadaran bangsa dalam menegelola perbedaan SARA dan keanekaragaman budaya dan adat-istiadat yang tumbuh da berkembang di wilayah Nusantara. Perbedaan tersebut hendaknya dimaknai sebagai kekayaan dan potensi bangsa bukan dipertentangkan

b. Adanya kemampuan untuk mereaksi penyebaran ideology asing

c. Adanya kemampuan untuk mereaksi dan mencegah dominasi ekonomi asing

d. Mampu berperan aktif dalam percaturan dunia di era globalisasi dalam berbagai aspeknya

e. Bertekad untuk membangun sistem budaya sesuai dengan ideologi nasional (Pancasiila) dan UUD 1945

f. Menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya dengan cara melakukan pengkajian kritis dan sosialisasi terhadap identitas nasional, seperti bahasa Indonesia, lagu Indonesia Raya, bendera merah putih, dan Garuda pancasila

 

Tentang integrasi, Myron Weiner (1971) memberikan lima definisi mengenai integrasi, yaitu:

a. Integrasi menunjuk pada proses penyatuan berbagai kelompok budaya dan sosial dalam satu wilayah dan proses pembentukan identitas nasional, membangun rasa kebangsaan dengan cara menghapus kesetiaan pada ikatan- ikatan yang lebih sempit.

b. Integrasi menunjuk pada masalah pembentukan wewenang kekuasaan nasional pusat di atas unit - unit sosial yang lebih kecil yang beranggotakan kelompok- kelompok sosial budaya masyarakat tertentu.

c. Integrasi menunjuk pada masalah menghubungkan antara pemerintah dengan yang diperintah. Mendekatkan perbedaan -perbedaan mengenai aspirasi dan nilai pada kelompok elit dan massa.

d. Integrasi menunjuk pada adanya konsensus terhadap nilai yang minimum yang diperlukan dalam memelihara tertib sosial.

e. Integrasi menunjuk pada penciptaan tingkah laku yang terintegrasi dan yang diterima demi mencapai tujuan bersama.

Sejalan dengan definisi tersebut, Myron Weiner membedakan 5 (lima) tipe integrasi yaitu integrasi nasional, integrasi wilayah, integrasi nilai, integrasi elit-massa, dan integrasi tingkah laku (tindakan integratif). Integrasi merupakan upaya menyatukan bangsa-bangsa yang berbeda dari suatu masyarakat menjadi satu keseluruhan yang lebih utuh, atau memadukan masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi satu bangsa.

 

Howard Wriggins (1996) menyebut ada 5 (lima) pendekatan atau cara bagaimana para pemimpin politik mengembangkan integrasi bangsa. Kelima pendekatan yang selanjutnya kami sebut sebagai faktor yang menentukan tingkat integrasi suatu negara adalah: 1) adanya ancaman dari luar, 2) gaya politik kepemimpinan, 3) kekuatan lembaga-lembaga politik, 4) ideologi nasional, dan 5) kesempatan pembangunan ekonomi.

 

Hampir senada dengan pendapat di atas, Sunyoto Usman (1998) menyatakan bahwa suatu kelompok masyarakat dapat terintegrasi apabila, 1) masyarakat dapat menemukan dan menyepakati nilai- nilai funda mental yang dapat dijadikan rujukan bersama, 2) masyarakat terhimpun dalam unit sosial sekaligus memiliki “croos cutting affiliation” sehingga menghasilkan “croos cutting loyality”, dan 3) masyarakat berada di atas saling ketergantungan di antara unit-unit sosial yang terhimpun di dalamnya dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi.

 

Menurut William F. Ogburn dan Mayer Nimkoff, syarat keberhasilan suatu integrasi yaitu sebagai berikut.

a. Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan kebutuhan satu dengan lainnya

b. Terciptanya kesepakatan (consensus) bersama mengenai norma-norma dan nilai-nilai sosial yang dilestarikan dan dijadikan pedoman

a. Norma-norma dan nlai-nilai sosial dijadikan aturan baku dalam melangsungkan proses integrasi sosial.

 

Lalu apa Faktor-Faktor Pembentuk Integrasi Nasional Dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Membicarakan Faktor-Faktor Pembentuk Integrasi Nasional berarti kita akan membicara Faktor pembentuk (faktor pendorong dan faktor pendukung) dan sekaligus menggali faktor penghambat integrasi nasional.

1. Faktor Pembentuk Integrasi Nasional

Faktor Pembentuk Integrasi Nasional dapat dikelompok menjadi 2 bagian yakni Faktor Pendorong Integrasi Nasional dan Faktor Pendukung Integrasi Nasional

Adapun yang dapat dikelompok sebagai Faktor Pendorong Integrasi Nasional sebagai berikut.

a) Adanya jiwa dan semangat gotong-royong, solidaritas dan toleransi keagaman yang kuat.

b) Penggunana Bahasa Indonesia

c) Adanya semangat persatuan dan kesatuan dalam bangsa, bahasa, dan tanah air Indonesia

d) Adanya kepribadian dan pandangan hidup kebangsaan yang sama, yaitu Pancasila

e) Adanya jiwa dan semangat dan gotong royong, solidaritas dan toleransi keagamaan yang kuat

 

Sedangkan yang dapat dikelompok sebagai Faktor Pendukung Integrasi Nasional, antara lain.

a) Adannya rasa senasib dan seperjuangan yang diakibatkan oleh faktor-faktor sejarah

b) Adanya ideology nasional yang tercermin dalam symbol Negara yakni Garuda Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika

c) Adanya sikap tekad dan keinginan untuk kembali bersatu di dalam kalangan bangsa Indonesia seperti yang telah dinyatakan dalam Sumpah Pemuda

d) Adanya ancaman dari luar yang menyebabkan adanya Persatuan dan munculnya semngat nasionalisme Dalam kalangan bangsa Indonesia.

 

2. Faktor Penghambat Integrasi Nasional

a. Kurangnya perhargaan terhadap kemajemukan yang bersifat heterogen.

b. Kurangnya toleransi antargologan

c. Kurangnya kesadaran dari masyarakat Indonesia terhadap ancaman dan gangguan dari luar

d. Adanya ketidakpuasan terhadap ketimpangan dan ketidakmerataan hasil-hasil pembangunan.

 

Bagaimana kunci sukses menciptakan integrasi nasional ? Sejak awal berdirinya negara Indonesia, para pendiri negara menghendaki persatuan di negara ini diwujudkan dengan menghargai terdapatnya perbedaan di dalamnya. Artinya bahwa upaya mewujudkan integrasi nasional Indonesia dilakukan dengan tetap memberi kesempatan kepada unsur - unsur perbedaan yang ada untuk dapat tumbuh dan berkembang secara bersama - sama. Proses pengesahan Pembukaan UUD 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 yang bahannya diambil dari Naskah Piagam Jakarta, dan di dalamnya terdapat rumusan dasar dasar negara Pancasila, menunjukkan pada kita betapa tokoh- tokoh pendiri negara (the founding fathers) pada waktu itu menghargai perbedaan- perbedaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Para pendiri negara rela mengesampingkan persoalan perbedaan- perbedaan yang ada demi membangun sebuah negara yang dapat melindungi seluruh rakyat Indonesia.

 

Sejalan dengan itu dipakailah semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya walaupun berbeda - beda tetapi tetap satu adanya. Semboyan tersebut sama maknanya dengan istilah “ unity in diversity ”, yang artinya bersatu dalam keanekaragaman, sebuah ungkapan yang menggambarkan cara menyatukan secara demokratis suatu masyarakat yang di dalamnya diwarnai oleh adanya berbagai perbedaan. Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut segala perbedaan dalam masyarakat ditanggapi bukan sebagai keadaan yang menghambat persatuan dan kesatuan bangsa, melainkan sebagai kekayaan budaya yang dapat dijadikan sumber pengayaan kebudayaan nasional kita.

 

Untuk terwujudnya masyarakat yang menggambarkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, diperlukan pandangan atau wawasan multikulturalisme. Multikulturalisme adalah pandangan bahwa setiap kebudayaan memiliki nilai dan kedudukan yang sama dengan kebudayaan lain, sehingga setiap kebudayaan berhak mendapatkan tempat sebagaimana kebudayaan lainnya. (Baidhawy, 2005:5). Perwujudan dari multikulturalisme adalah kesediaan orang- orang dari kebudayaan yang beragam untuk hidup berdampingan secara damai. Di sini diperlukan sikap hidup yang memandang perbedaan di antara anggota masyarakat sebagai kenyataan yang wajar dan tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk berkonflik. Di samping itu perlu memandang kebudayaan orang lain dari perspektif pemilik kebudayaan yang bersangkutan, dan bukan memandang kebudayaan orang lain dari perspektif dirinya sendiri. Oleh karena itu multikulturalisme menekankan pentingnya belajar tentang kebudayaan-kebudayaan lain dan mencoba memahaminya secara penuh dan empatik sehingga dapat menghargai kebudayaan - kebudayaan lain di samping kebudayaannya sendiri.

 

Dalam rangka mengupayakan terwujudnya integrasi nasional yang mantap ada beberapa strategi yang mungkin ditempuh, yaitu:

1. Stategi Asilmilasi

2. Strategi Akulturasi

3. Strategi Pluralis

Ketiga strategi tersebut terkait dengan seberapa jauh penghargaan yang diberikan atas unsur- unsur perbedaan yang ada dalam masyarakat. Srtategi asimilasi, akulturasi, dan pluralisme masing- masing menunjukkan penghargaan yang secara gradual berbeda dari yang paling kurang, yang lebih, dan yang paling besar penghargaannya terhadap unsur-unsur perbedaan dalam masyarakat, di dalam upaya mewujudkan integrasi nasional tersebut.

 

1. Strategi Asimilasi

Asimilasi adalah proses percampuran dua macam kebudayaan atau lebih menjadi satu kebudayaan yang baru, di mana dengan percampuran tersebut maka masing - masing unsur budaya melebur menjadi satu sehingga dalam kebudayaan yang baru itu tidak tampak lagi identitas masing-masing budaya pembentuknya. Ketika asimilasi ini menjadi sebuah strategi integrasi nasional, berarti bahwa negara mengintegrasikan masyarakatnya dengan mengupayakan agar unsur- unsur budaya yang ada dalam negara itu benar- benar melebur menjadi satu dan tidak lagi menampakkan identitas budaya kelompok atau budaya lokal. Dengan strategi yang demikian tampak bahwa upaya mewujudkan integrasi nasional dilakukan tanpa menghargai unsur-unsur budaya kelompok atau budaya lokal dalam masyarakat negara yang bersangkutan. Dalam konteks perubahan budaya, asimilasi memang bisa saja terjadi dengan sendirinya oleh adanya kondisi tertentu dalam masyarakat. Namun bisa juga hal itu merupakan bagian dari strategi pemerintah negara dalam mengintegrasikan masyarakatnya, yaitu dengan cara melakukan rekayasa budaya agar inte grasi nasional dapat diwujudkan. Dilihat dari perspektif demokrasi, apabila upaya yang demikian itu dilakukan dapat dikatakan sebagai cara yang kurang demokratis dalam mewujudkan integrasi nasional.

2. Strategi Akulturasi

Akulturasi adalah proses percampuran dua macam kebudayaan atau lebih sehingga memunculkan kebudayaan yang baru, di mana ciri- ciri budaya asli pembentuknya masih tampak dalam kebudayaan baru tersebut. Dengan demikian berarti bahwa kebudayaan baru yang terbentuk tidak “melumat” semua unsur budaya pembentuknya. Apabila akulturasi ini menjadi strategi integrasi yang diterapkan oleh pemerintah suatu negara, berarti bahwa negara mengintegrasikan masyarakatnya dengan mengupayakan adanya identitas budaya bersama namun tidak menghilangkan selur uh unsur budaya kelompok atau budaya lokal.

Dengan strategi yang demikian tampak bahwa upaya mewujudkan integrasi nasional dilakukan dengan tetap menghargai unsur-unsur budaya kelompok atau budaya lokal, walaupun penghargaan tersebut dalam kadar yang tidak terlalu besar. Sebagaimana asimilasi, proses akulturasi juga bisa terjadi dengan sendirinya tanpa sengaja dikendalikan oleh negara.

Namun bisa juga akulturasi menjadi bagian dari strategi pemerintah negara dalam mengintegrasikan masyarakatnya. Dihat dari perspektif demokrasi, strategi integrasi nasional melalui upaya akulturasi dapat dikatakan sebagai cara yang cukup demokratis dalam mewujudkan integrasi nasional, karena masih menunjukkan penghargaan terhadap unsur- unsur budaya kelompok atau budaya lokal.

 

3. Strategi Pluralis

Paham pluralis merupakan paham yang menghargai terdapatnya perbedaan dalam masyarakat. Paham pluralis pada prinsipnya mewujudkan integrasi nasional dengan memberi kesempatan pada segala unsur perbedaan yang ada dalam masya rakat untuk hidup dan berkembang. Ini berarti bahwa dengan strategi pluralis, dalam mewujudkan integrasi nasional negara memberi kesempatan kepada semua unsur keragaman dalam negara, baik suku, agama, budaya daerah, dan perbedaan-perbedaan lainnya untu k tumbuh dan berkembang, serta hidup berdampingan secara damai. Jadi integrasi nasional diwujudkan dengan tetap menghargai terdapatnya perbedaan- perbedaan dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan pandangan multikulturalisme, bahwa setiap unsur perbedaan memiliki nilai dan kedudukan yang sama, sehingga masing-masing berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

 

Demikian uraian singkat materi tentang Faktor-Faktor Pembentuk Integrasi Nasional Dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Selamat belajar, semoga sukses.



= Baca Juga =



Related Posts

3 comments:

  1. kurang jelas dan susah dimengerti

    ReplyDelete
  2. Ubet, Akbar Ubaydilah F
    Kata kata nya terlalu panjang dan lebar jg sulit dimengerti, mohon untuk dipersingkat dan jelas ,sekian dan terimakasih


    Jombang 1 April 2021

    ReplyDelete

Maaf, Komentar yang disertai Link Aktif akan terhapus oleh sistem

online in blog